peran bahan organik terhadap tanah
Puji
syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat, rahmat
dan hidayah-Nya, makalah ini dapat terselesaikan. Dalam menyelesaikan makalah
ini, penyusun mengalami banyak kesulitan yang dihadapi. Namun, berkat bimbingan
dan motivasi dari berbagai pihak, makalah ini dapat terselesaikan tepat pada
waktunya.
Oleh
karena itu, sudah selayaknya penyusun menyampaikan banyak terima kasih kepada
Dosen mata kuliah, orang tua, dan teman-teman serta semua pihak atas motivasi
serta bantuannya baik secara materil maupun spiritual.
Penyusun
menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini, masih terdapat banyak kekurangan.
Oleh karena itu, penyusun sangat mengharapkan saran, kritik yang bersifat
positif dalam penyempurnaan makalah ini.
Semoga
makalah ini bermanfaat bagi kita semua, sebagai gerbang pembuka cakrawala
berpikir untuk kita.
Pontianak,
30 september 2016
Penyusun
ARMAN NURSYABA
C1051151047
Bahan organik merupakan suatu sistem kompleks
dan dinamis, yang besumber dari sisa tanaman atau binatang yang terdapat
di dalam tanah yang terus menerus mengalami perubahan bentuk, karena
dipengaruhi oleh faktor fisika, biologi, dan kimia. Bahan organik memiliki
peran penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung tanaman,
sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun, kemampuan tanah dalam
mendukung produktivitas tanaman juga menurun. Menurunnya kadar bahan organik
merupakan salah satu bentuk kerusakan tanah yang umum terjadi.
Kerusakan tanah merupakan masalah penting
bagi negara berkembang karena intensitasnya yang cenderung meningkat, sehingga
tercipta tanah rusak-rusak yang jumlah maupun intensitasnya meningkat.
Kerusakan tanah secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga yaitu:
kerusakan sifat tanah kimia, biologi, dan fisika.
Bahan organik tanah menjadi
salah satu indikator kesehatan tanah karena memiliki beberapa peranan kunci di
tanah. Disamping itu bahan organic tanah memiliki fungsi – fungsi yang saling
berkaitan, sebagai contoh bahan organik tanah menyediakan nutrisi untuk
aktivitas mikroba yang juga dapat meningkatkan dekomposisi bahan organik,
meningkatkan stabilitas agregat tanah, dan meningkatkan daya pulih tanah
(Sutanto, 2005).
Dengan demikian, terjadi ketidakseimbangan
masukan bahan organik terhadap tanah yang dapat mengakibatkan tanah menjadi
rusak. Namun, jika hal ini dibiarkan maka akan tidak menguntungkan bagi
pertanian yang berkelanjutan. Meningkatnya kemasaman tanah akan mengakibatkan
ketersediaan hara dalam tanah yang semakin berkurang dan dapat mengurangi umur
produktif tanaman.
1. Apa pengertian atau
definisi Bahan Organik Tanah?
2. Apa fungsi dari Bahan
Organik?
3. Apa saja peran Bahan
Organik terhadap tanah?
4. Apa saja macam-macam
Bahan Organik?
1. Untuk
mengetahui pengertian atau definisi dari Bahan Organik Tanah.
2. Untuk
mengetahui fungsi dari Bahan Organik.
3. Untuk
mngetahui peran Bahan Organik terhadap Tanah.
4. Untuk
mengetahui macam-macam dari Bahan Organik.
Bahan
organik tanah merupakan hasil dekomposisi atau pelapukan bahan-bahan mineral
yang terkandung didalam tanah. Bahan organik tanah juga dapat berasal dari
timbunan mikroorganisme, atau sisa-sisa tanaman dan hewan yang telah mati dan
terlapuk selama jangka waktu tertentu. Bahan organik dapat digunakan untuk
menentukan sumber hara bagi tanaman, selain itu dapat digunakan untuk
menentukan klasifikasi tanah (Soetjito, 1992). Menurut Stevenson (1982), bahan
organik tanah adalah semua jenis senyawa organik yang terdapat di dalam tanah,
termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan
organik terlarut di dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus.
Bahan
organik memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung
tanaman, sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun, kemampuan
tanah dalam mendukung produktivitas tanaman juga menurun. Menurunnya kadar
bahan organik merupakan salah satu bentuk kerusakan tanah yang umum terjadi.
Kerusakan tanah merupakan masalah penting bagi negara berkembang karena
intensitasnya yang cenderung meningkat, sehingga tercipta tanah-tanah rusak
yang jumlah maupun intensitasnya meningkat. Kerusakan tanah secara garis besar
dapat digolongkan menjadi tiga kelompok utama, yaitu kerusakan sifat kimia,
fisika dan biologi tanah. Kerusakan kimia tanah dapat terjadi karena proses
pemasaman tanah, akumulasi garam - garam (salinisasi), tercemar logam berat,
dan tercemar senyawa-senyawa organic dan xenobiotik seperti pestisida atau
tumpahan minyak bumi.
Terjadinya
pemasaman tanah dapat diakibatkan penggunaan pupuk nitrogen buatan secara terus
menerus dalam jumlah besar. Kerusakan tanah secara fisik dapat diakibatkan
karena kerusakan struktur tanah yang dapat menimbulkan pemadatan tanah. Kerusakan
struktur tanah ini dapat terjadi akibat pengolahan tanah yang salah atau
penggunaan pupuk kimia secara terus menerus. Kerusakan biologi ditandai oleh
penyusutan populasi maupun berkurangnya biodiversitas organisme tanah, dan
terjadi biasanya bukan kerusakan sendiri, melainkan akibat dari kerusakan lain
(fisik dan atau kimia). Sebagai contoh penggunaan pupuk nitrogen (dalam bentuk
ammonium sulfat dan sulfur coated urea) yang terus menerus selama 20 tahun
dapat menyebabkan pemasaman tanah sehingga populasi cacing tanah akan turun
dengan drastis (Ma et al., 1990). Kehilangan unsur hara dari daerah perakaran
juga merupakan fenomena umum pada sistem pertanian dengan masukan rendah.
Pemiskinan hara terjadi utamanya pada praktek pertanian di lahan yang miskin
atau agak kurang subur tanpa dibarengi dengan pemberian masukan pupuk buatan
maupun pupuk organik yang memadai. Termasuk dalam kelompok ini
adalah kehilangan bahan organik yang lebih cepat dari penambahannya
pada lapisan atas.
Dengan
demikian terjadi ketidakseimbangan masukan bahan organik dengan kehilangan yang
terjadi melalui dekomposisi yang berdampak pada penurunan kadar bahan
organik dalam tanah. Tanah-tanah yang sudah mengalami kerusakan akan
sulit mendukung pertumbuhan tanaman. Sifat-sifat tanah yang sudah rusak
memerlukan perbaikan agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi kembali secara
optimal. Penyediaan hara bagi tanaman dapat dilakukan dengan penambahan pupuk
baik organik maupun anorganik. Pupuk anorganik dapat menyediakan hara dengan
cepat. Namun apabila hal ini dilakukan terus menerus akan menimbulkan kerusakan
tanah. Hal ini tentu saja tidak menguntungkan bagi pertanian yang
berkelanjutan. Meningkatnya kemasaman tanah akan mengakibatkan ketersediaan
hara dalam tanah yang semakin berkurang dan dapat mengurangi umur produktif
tanaman.
Sumber
primer bahan organik dalam tanah Alfisol adalah jaringan tanaman berupa akar,
batang, ranting dan daun. Jaringan tanaman ini akan mengalami dekomposisi dan
akan terangkut ke lapisan bawah serta diinkorporasikan dengan tanah tersebut
(Islami,1995). Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses
fotosintesis sehingga unsur karbon merupakan penyusun utama dari bahan organik
tersebut. Unsur karbon ini berada dalam bentuk senyawa-senyawa polisakarida, seperti
selulosa, hemiselulosa, pati, dan bahan- bahan pektin dan lignin. Selain itu
nitrogen merupakan unsur yang paling banyak terakumulasi dalam bahan organik
karena merupakan unsur yang penting dalam sel mikroba yang terlibat dalam
proses perombakan bahan organik tanah. Jaringan tanaman ini akan mengalami
dekomposisi dan akan terangkut ke lapisan bawah serta diinkorporasikan dengan
tanah. Tumbuhan tidak saja sumber bahan organik, tetapi sumber bahan organik
dari seluruh makhluk hidup.
Kandungan
organik tanah biasanya diukur berdasarkan kandungan C-organik kandungan karbon
(C) bahan organik bervariasi antara 45%-60% dan konversi C-organik menjadi
bahan = % C-organik x 1,724. Kandungan bahan organik dipengaruhi oleh arus
akumulasi bahan asli dan arus dekomposisi dan humifikasi yang sangat tergantung
kondisi lingkungan (vegetasi, iklim, batuan, timbunan, dan praktik pertanian).
Arus
dekomposisi jauh lebih penting dari pada jumlah bahan organik yang ditambahkan.
Pengukuran kandung bahan organik tanah dengan metode walkey and black
ditentukan berdasarkan kandungan C-organik (Foth,1994).
Bahan
organik berperan penting untuk menciptakan kesuburan tanah. Peranan bahan
organik bagi tanah adalah dalam kaitannya dengan perubahan sifat-sifat tanah,
yaitu sifat fisik, biologis, dan sifat kimia tanah. Bahan organik merupakan
pembentuk granulasi dalam tanah dan sangat penting dalam pembentukan agregat
tanah yang stabil. Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah yang tiada
taranya. Melalui penambahan bahan organik, tanah yang tadinya berat menjadi
berstruktur remah yang relatif lebih ringan. Pergerakan air secara vertikal
atau infiltrasi dapat diperbaiki dan tanah dapat menyerap air lebih cepat
sehingga aliran permukaan dan erosi diperkecil. Demikian pula dengan aerasi
tanah yang menjadi lebih baik karena ruang pori tanah (porositas) bertambah
akibat terbentuknya agregat.
Bahan
organik umumnya ditemukan dipermukaan tanah. Jumlahnya tidak besar, hanya
sekitar 3-5% tetapi pengaruhnya terhadap sifat-sifat tanah besar sekali.
Sekitar setengah dari kapasitas tukar kation berasal dari bahan organik. Ia
merupakan sumber hara tanaman. Disamping itu bahan organik adalah sumber energi
bagi sebagian besar organisme tanah. Dalam memainkan peranan tersebut bahan
organik sangat ditentukan oleh sumber dan susunannya, oleh karena kelancaran
dekomposisinya, serta hasil dari dekomposisi itu sendiri.
Menurut
Lal (1995), pengelolaan tanah yang berkelanjutan berarti suatu upaya
pemanfaatan tanah melalui pengendalian masukan dalam suatu proses untuk
memperoleh produktivitas tinggi secara berkelanjutan, meningkatkan kualitas
tanah, serta memperbaiki karakteristik lingkungan. Dengan demikian diharapkan
kerusakan tanah dapat ditekan seminimal mungkin sampai batas yang dapat
ditoleransi, sehingga sumberdaya tersebut dapat dipergunakan secara lestari dan
dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang. Bahan organik tanah
berpengaruh terhadap sifat-sifat kimia, fisik, maupun biologi tanah.
Pengaruh bahan organik pada
ciri fisika, kimia, dan biologi tanah adalah sebagai berikut:
1.
Faktor bahan organik pada ciri fisika tanah.
-
Kemampuan menahan air meningkat.
-
Warna tanah menjadi coklat hingga hitam.
-
Merangsang granulasi agregat dan
memantapkannya.
-
Menurunkan plastisitas, kohesi, dan sifat
buruk lainnya dari liat.
2.
Pengaruh bahan organik pada kimia tanah :
-
Meningkatkan daya jerap dan kapasitas tukar
kation.
-
Kation yang mudah dipertukarkan meningkat.
-
Unsure N,P,S diikat dalam bentuk organik atau
dalam tubuh mikro organisme,sehingga terhindar dari pencucian, kemudian
tersedia kembali.
3.
Pengaruh bahan organik pada biologi tanah :
-
Jumlah dan aktifitas metabolik organisme
tanah meningkat.
-
Kegiatan jasad mikro dalam membantu
dekomposisi bahan organik juga meningkat (Six et.al., 2005).
Selain
memiliki dampak positif, penggunaan bahan organik dapat pula memberikan dampak
yang merugikan. Salah satu dampak negatif yang dapat muncul akibat dari
penggunaan bahan organik yang berasal dari sampah kota adalah meningkatnya
logam berat yang dapat diasimilasi dan diserap tanaman, meningkatkan salinitas,
kontaminasi dengan senyawa organik seperti poli khlorat bifenil, fenol,
hidrocarburate polisiklik aromatic, dan asam-asam organik (propionic
dan butirik) (de Haan, 1981 dalam Aguilar et al., 1997) Faktor yang mempengaruhi
pembentukan tanah juga harus diperhatikan karena mempengaruhi jumlah bahan
organik. Miller et al. (1985) berpendapat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
jumlah bahan organik dalam tanah adalah sifat dan jumlah bahan organik yang
dikembalikan, kelembaban tanah, temperatur tanah, tingkat aerasi tanah,
topografi dan sifat penyediaan hara.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi dekomposisi bahan organik dapat dikelompokkan dalam tiga
grup, yaitu :
1) sifat dari bahan tanaman
termasuk jenis tanaman, umur tanaman dan komposisi kimia,
2) tanah termasuk aerasi,
temperatur, kelembaban, kemasaman, dan tingkat kesuburan,
3) faktor iklim terutama
pengaruh dari kelembaban dan temperatur.
Bahan
organik secara umum dibedakan atas bahan organik yang relative sukar
didekomposisi karena disusun oleh senyawa siklik yang sukar diputus atau
dirombak menjadi senyawa yang lebih sederhana, termasuk di dalamnya adalah
bahan organik yang mengandung senyawa lignin, minyak, lemak, dan resin yang
umumnya ditemui pada jaringan tumbuh-tumbuhan; dan bahan organik yang mudah
didekomposisikan karena disusun oleh senyawa sederhana yang terdiri dari C, O,
dan H, termasuk di dalamnya adalah senyawa dari selulosa, pati, gula dan
senyawa protein.
Dari
berbagai aspek tersebut, jika kandungan bahan organik tanah cukup, maka
kerusakan tanah dapat diminimalkan, bahkan dapat dihindari. Jumlah bahan
organik di dalam tanah dapat berkurang hingga 35% untuk tanah yang ditanami
secara terus menerus dibandingkan dengan tanah yang belum ditanami atau belum
dijamah (Brady, 1990). Young (1989) menyatakan bahwa untuk mempertahankan
kandungan bahan organik tanah agar tidak menurun, diperlukan minimal 8 – 9 ton
per ha bahan organik tiap tahunnya. Hairah et al. (2000) mengemukakan beberapa
cara untuk mendapatkan bahan organik:
1. Pengembalian
sisa panen. Jumlah sisa panenan tanaman pangan yang dapat dikembalikan ke dalam
tanah berkisar 2 – 5 ton per ha, sehingga tidak dapat memenuhi jumlah kebutuhan
bahan organik minimum. Oleh karena itu, masukan bahan organik dari sumber lain
tetap diperlukan.
2. Pemberian
pupuk kandang. Pupuk kandang yang berasal dari kotoran hewan peliharaan seperti
sapi, kambing, kerbau dan ayam, atau bisa juga dari hewan liar seperti
kelelawar atau burung dapat dipergunakan untuk menambah kandungan bahan organik
tanah. Pengadaan atau penyediaan kotoran hewan seringkali sulit dilakukan
karena memerlukan biaya transportasi yang besar.
3. Pemberian
pupuk hijau. Pupuk hijau bisa diperoleh dari serasah dan dari pangkasan tanaman
penutup yang ditanam selama masa bera atau pepohonan dalam larikan sebagai
tanaman pagar.
Bahan
organik tanah menjadi salah satu indikator kesehatan tanah karena memiliki
beberapa peranan kunci di tanah. Peranan-peranan kunci bahan organik tanah
dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu:
1.
Fungsi Biologi
-
menyediakan makanan dan tempat hidup
(habitat) untuk organisme (termasuk mikroba) tanah.
-
menyediakan energi untuk proses-proses
biologi tanah.
-
memberikan kontribusi pada daya pulih
(resiliansi) tanah
2.
Fungsi Kimia
-
merupakan ukuran kapasitas retensi hara tanah.
-
penting untuk daya pulih tanah akibat
perubahan pH tanah.
-
menyimpan cadangan hara penting, khususnya N
dan K.
3.
Fungsi Fisika
-
mengikat partikel-partikel tanah menjadi
lebih remah untuk meningkatkan stabilitas struktur tanah
-
meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan
air
-
perubahahan moderate terhadap suhu tanah
Fungsi-fungsi
bahan organik tanah ini saling berkaitan satu dengan yang lain. Sebagai contoh
bahan organik tanah menyediakan nutrisi untuk aktivitas mikroba yang juga dapat
meningkatkan dekomposisi bahan organik, meningkatkan stabilitas agregat tanah,
dan meningkatkan daya pulih tanah.
Bahan
orgnik di samping berpengaruh terhadap pasokan hara tanah juga tidak kalah
pentingnya terhadap sifat fisik, biologi dan kimia tanah lainnya. Syarat tanah sebagai
media tumbuh dibutuhkan kondisi fisik dan kimia yang baik. Keadaan fisik tanah
yang baik apabila dapat menjamin pertumbuhan akar tanaman dan mampu sebagai
tempat aerasi dan lengas t anah, yang semuanya berkaitan dengan peran bahan
organik. Peran bahan organik yang paling besar terhadap sifat fisik tanah
meliputi : struktur, konsistensi, porositas, daya mengikat air, dan yang tidak
kalah penting adalah peningkatan ketahanan terhadap erosi.
A.
Peran Bahan Organik
Terhadap Kesuburan Fisik Tanah
Bahan
organik tanah merupakan salah satu bahan pembentuk agregat tanah, yang
mempunyai peran sebagai bahan perekat antar partikel tanah untuk bersatu
menjadi agregat tanah, sehingga bahan organik penting dalam pembentukan
struktur tanah. Pengaruh pemberian bahan organik terhadap struktur tanah sangat
berkaitan dengan tekstur tanah yang diperlakukan. Pada tanah lempung yang
berat, terjadi perubahan struktur gumpal kasar dan kuat menjadi struktur
yang lebih halus tidak kasar, dengan derajat struktur sedang hingga kuat,
sehingga lebih mudah untuk diolah. Komponen organik seperti asam humat dan asam
fulvat dalam hal ini berperan sebagai sementasi pertikel lempung dengan
membentuk komplek lempung-logam -humus (Stevenson, 1982).
Mekanisme
pembentukan egregat tanah oleh adanya peran bahan organik ini dapat digolongan
dalam empat bentuk: (1) Penambahan bahan organik dapat meningkatkan populasi
mikroorganisme tanah baik jamur dan actinomycetes. Melalui pengikatan secara
fisik butir-bitir primer oleh miselia jamur dan actinomycetes, maka
akan terbentuk agregat walaupun tanpa adanya fraksi lempung; (2) Pengikatan
secara kimia butir-butir lempung melalui ikatan antara bagian–bagian positip
dalam butir lempung dengan gugus negatif (karboksil) senyawa organik yang berantai
panjang (polimer); (3) Pengikatan secara kimia butir-butir lempung melalui
ikatan antara bagian-bagian negatif dalam lempung dengan gugusan negatif
(karboksil) senyawa organik berantai panjang dengan perantaraan basa-basa Ca,
Mg, Fe dan ikatan hidrogen; (4) Pengikatan secara kimia butir-butir lempung
melalui ikatan antara bagian-bagian negatif dalam lempung dengan gugus positif
(gugus amina, amida, dan amino) senyawa organik berantai panjang (polimer)
(Seta, 1987). Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam.
B.
Peran Bahan Organik
Terhadap Kesuburan Kimia Tanah
a.
Meningkatkan hara,
b.
Menghasilkan humus tanah yang berperan secara
koloidal dari senyawa sisa mineralisasi dan senyawa sulit terurai dalam proses
humifikasi,
c.
Meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK)
tanah 30 kali lebih besar dibandingkan koloid anorganik,
d.
Menurunkan muatan positif tanah melalui
proses pengkelatan terhadap mineral oksida dan kation Al dan Fe yang reaktif,
sehingga menurunkan fiksasi P tanah,
e.
Meningkatkan ketersedian dan efisiensi
pemupukan serta melalui peningkatan pelarutan P oleh asam-asam organic hasil
dekomposisi bahan organic.
C.
Peranan Bahan
Organik Terhadap Biologi Tanah
Bahan
organik merupakan sumber energi bagi makro dan mikro-fauna tanah. Penambahan
bahan organik dalam tanah akan menyebabkan aktivitas dan populasi mikrobiologi
dalam tanah meningkat, terutama yang berkaitan dengan aktivitas dekomposisi dan
mineralisasi bahan organik. Beberapa mikroorganisme yang beperan dalam
dekomposisi bahan organik adalah fungi, bakteri dan aktinomisetes. Di samping
mikroorganisme tanah, fauna tanah juga berperan dalam dekomposi bahan organik
antara lain yang tergolong dalam protozoa, nematoda, Collembola, dan
cacing tanah. Fauna tanah ini berperan dalam proses humifikasi dan mineralisasi
atau pelepasan hara, bahkan ikut bertanggung jawab terhadap pemeliharaan
struktur tanah (Tian, G. 1997). Mikro flora dan fauna tanah ini saling
berinteraksi dengan kebutuhannya akan bahan organik, kerena bahan organik
menyediakan energi untuk tumbuh dan bahan organik memberikan karbon sebagai
sumber energi.
Pengaruh
positif yang lain dari penambahan bahan organik adalah pengaruhnya pada
pertumbuhan tanaman. Terdapat senyawa yang mempunyai pengaruh terhadap
aktivitas biologis yang ditemukan di dalam tanah adalah senyawa perangsang
tumbuh (auxin), dan vitamin (Stevenson, 1982). Senyawa-senyawa ini di dalam
tanah berasal dari eksudat tanaman, pupuk kandang, kompos, sisa tanaman dan
juga berasal dari hasil aktivitas mikrobia dalam tanah. Disamping itu,
diindikasikan asam organik dengan beratmolekul rendah, terutama bikarbonat
(seperti suksinat, ciannamat, fumarat) hasil
dekomposisi bahan organik, dalam konsentrasi rendah dapat mempunyai sifat
seperti senyawa perangsang tumbuh, sehingga berpengaruh positip terhadap
pertumbuhan tanaman.
1. Pupuk Hijau
Pupuk
hijau terbuat dari tanaman atau komponen tanaman yang dibenamkan ke dalam
tanah. Jenis tanaman yang banyak digunakan adalah dari familia Leguminoceae
atau kacang-kacangan dan jenis rumput-rumputan (rumput gajah). Jenis tersebut
dapat menghasilkan bahan organic lebih banyak, daya serap haranya lebih besar
dan mempunyai bintil akar yang membantu mengikat Nitrogen dari udara.
Keuntungan
penggunaan Pupuk Hijau
1)
Mampu memperbaiki struktur dan tekstur tanah
serta infiltrasi air
2)
Mencegah adanya erosi
3)
Dapat membantu mengendalikan hama dan
penyakit yang berasal dari tanah dan gulma jika ditanam pada waktu tanah bero
4)
Sangat bermanfaat pada daerah-daerah yang
sulit dijangkau untuk suplai pupuk inorganik. Namun pupuk hijau juga memiliki
kekurangan, yaitu:
a)
tanaman hijau dapat sebagai kendala dalam
waktu, tenaga, lahan dan air pada pola tanam yang menggunakan rotasi dengan
tanaman legume dapat mengundang hama ataupun penyakit,
b)
dapat menimbulkan persaingan dengan tanaman
pokok dalam hal tempa, air dan hara pada pola pertanaman tumpang sari.
2.
Pupuk Kompos
Pupuk
kompos merupakan bahan-bahan organik yang telah mengalami pelapukan, seperti jerami,
alang-alang, sekam padi, dan lain-lain termasuk kotoran hewan. Sebenarnya pupuk
hijau dan seresah dapat dikatakan sebgai pupuk kompos. Tetapi sekarang sudah
banyak spesifikasi mengenai kompos. Biasanya orang lebih suka menggunakan
limbah atau sampah domestik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan bahan yang
dapat diperbaharui yang tidak tercmpur logam dan plastik. Hal ini juga
diharapkan dapat menanggulangi adanya timbunan sampah yang menggunung serta
megurangi polusi dan pencemaran di perkotaan.
- Sifat fisik tanah
Kompos
meningkatkan struktur tanah sehingga mempermudah pengolahan tanah, tanah
pasiran menjadi lebih kompak dan tanah lempung dapat menjadi gembur. Selain itu
kompos juga mengandung humus yang sangat dibutuhkan untuk peningkatan pengikatan
hara makro dan mikro yang sangat dibutuhkan oleh tanaman.
- Sifat kimia tanah
Kompos
menyediakan hara baik makro maupun mikro mineral. Kebutuhan hara makro mineral
tanaman, seperti N, P, K, Ca dan Mg didalam kompos berada dalam bentuk tersedia
bagi tanaman karena proses dekomposisi. Hara-hara mikro mineral yang juga
terkandung dan dibutuhkan oleh tanaman seperti Fe, S, Mn, Cu, Zn, B, Mo, Si dan
trace mineral lainnya yang dalam jumlah sedikit tapi dibutuhkan untuk
pertumbuhan tanaman.
- Sifat biologi tanah
Kompos
banyak mengandung mikroorganisme (fungi, aktinomicetes, bakteri dan algae) yang
berfungsi untuk proses dekomposisi lanjut terhadap bahan organik tanah. Dengan
ditambahkannya kompos didalam tanah, tidak hanya jutaan mikroorganisme yang
ditambahkan kedalam tanah, akan tetapi mikroorganisme yang ada didalam tanah
juga terpacu untuk berkembang biak. Selain itu aktifitas mikroorganisme didalam
tanah juga menghasilkan hormon-hormon pertumbuhan seperti auksin, giberellin
dan sitokinin yang dapat memacu pertumbuhan dan perkembangan akar-akar rambut
sehingga daerah pencarian unsur-unsur hara semakin luas.
3.
Pupuk Kandang
Para
petani terbiasa membuat dan menggunakan pupuk kandang sebagai pupuk karena
murah, mudah pengerjaannya, begitu pula pengaruhnya terhadap tanaman.
Penggunaan pupuk ini merupakan manifestasi penggabungan pertanian dan
peternakan yang sekaligus merupakan syarat mutlak bagi konsep pertanian
organik.
Pupuk
kandang mempunyai keuntungan sifat yang lebih baik daripada pupuk organik
lainnya apalagi dari pupuk anorganik, yaitu :
1.
Pupuk kandang merupakan humus banyak
mengandung unsur-unsur organik yang dibutuhkan di dalam tanah. Oleh karena itu
dapat mempertahankan struktur tanah sehingga mudah diolah dan banyak mengandung
oksigen. Penambahan pupuk kandang dapat meningkatkan kesuburan dan poduksi
pertanian. Hal ini disebakan tanah lebih banyak menahan air lebih banyak
sehingga unsur hara akan terlarut dan lebih mudah diserap oleh bulu akar.
2.
Sumber hara makro dan mikro dalam keadaan
seimbang yang sangat penting unuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Unsur
mikro yang tidak terdapat pada pupuk lainnya bisa disediakan oleh pupuk
kandang, misalnya S, Mn, Co, Br, dan lain-lain.
3.
Pupuk kandang banyak mengandung mikrooganisme
yang dapat membantu pembentukan humus di dalam tanah dan mensintesa senyawa
tertentu yang berguna bagi tanaman, sehingga pupuk kandang merupakan suatu
pupuk yang sangat diperlukan bagi tanah dan tanaman dan keberadaannya dalam
tanah tidak dapat digantikan oleh pupuk lain.
4.
Pupuk Cair
Pupuk
oganik bukan hanya berbentuk padat dapat berbentuk cair seperti pupuk
anorganik. Pupuk cair sepertinya lebih mudah dimanfaatkan oleh tanaman karena
unsur-unsur di dalamnya sudah terurai dan tidak dalam jumlah yang terlalu
banyak sehingga manfaatnya lebih cepat terasa.Bahan baku pupuk cair dapat
berasal dari pupuk padat dengan perlakuan perendaman. Setelah beberapa minggu
dan melalui beberapa perlakuan, air rendaman sudah dapat digunakan sebagai
pupuk cair.Penggunaan pupuk cair dapat memudahkan dan menghemat tenaga.
Keuntungan
pupuk cair antara lain :
1.
pengerjaan pemupukan akan lebih cepat
2.
penggunaanya sekaligus melakukan perlakuan
penyiraman sehingga dapat menjaga kelembaban tanah
3.
aplikasinya bersama pestisida organik
berfungsi sebagai pencegah dan pemberantas penggangu tanaman.
4.
Jenis tanaman pupuk hijau yang sering
digunakan untuk pembuatan pupuk cair misalnya daun johar, gamal, dan
lamtorogung
Bahan
organik adalah penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian
telah mengalami pelapukandan pembentukan kembali.Bahan organik berperan penting
untuk menciptakan kesuburan tanah. Peranan bahan organik bagi tanah adalah
dalam kaitannya dengan perubahan sifat-sifat tanah, yaitu sifat fisik,
biologis, dan sifat kimia tanah. Fungsi bahan organik tanah dapat mempengaruhi
sifat fisik, sifat kimia, dan sifat biologi tanah.
Peran
bahan organik yang paling besar terhadap sifat fisik tanah meliputi : struktur,
konsistensi, porositas, daya mengikat air, dan yang tidak kalah penting adalah
peningkatan ketahanan terhadap erosi.
Macam-macam
dari bahan organik adalah pupuk hijau, kompos, pupuk cair dan sebagainya. Pupuk
hijau memiliki manfaat sebagai mencegah adanya erosi dan memperbaiki tekstur
serta struktur tanah. Pupuk cair keuntungannya pengerjaannya lebih
cepat.
Agustina Tangketasik, Ni
Made Wikarniti, Ni Nengah Soniari, dan Wayan Narka. 2012. Kadar
Bahan Organik Tanah pada Tanah Sawah dan Tegalan di Bali serta Hubungannya
dengan Tekstur Tanah
Arsyad,S.
1979. Konservasi Tanah.Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian,IPB. Bogor.
Djuanda,J.S.,M.Assaad dan
Warsana. 2010. Kajian laju infiltrasi dan beberapa sifat fisik tanah pada tiga
jenis tanaman pagar dalam sistem budidaya lorong. Jurnal Ilmu Tanah dan
Lingkungan 4:25-31.
Foth, Henry. D, 1994 .
Dasar-Dasar Ilmu Tanah Jilid ke Enam . Erlangga. Jakarta.
Islami, T. 1995.
Klasifikasi Tanah. Aka press. Jakarta.
M. Mandiola, G.A. Studdert,
G.F. Domínguez, C.C. Videla. Organic matter distribution in aggregate
sizes of a mollisol under contrasting managements
Madjid, Abdul. 2011. Bahan
Organik Tanah. Universitas Sriwijaya. Palembang.
Monika CVETKOV1, Igor
ŠANTAVEC2, Darja KOCJAN AČKO3, Anton TAJNŠEK4 Soil organic matter content
according to different management system within long-term
experiment Received October 12, 2009; Accepted January 19, 2010.
M.w.i Schmidt and I Kogel.
organic matter in particle size fractions from A and B Horizons of a Haplic
Alisol
Sabaruddi, Siti Nurul Aidil
Fitri1, dan Lesi Lestari.2009. Hubungan antara Kandungan Bahan
Organik Tanah dengan Periode Pasca Tebang Tanaman HTIAcacia Mangium Willd.
Six, J., E.T.Elliot, and K.
Paulina. 2012. Soil structur and soil organic matter:II.A normalized ability
and the effect of mineralogy. Soil Society America Journal
64:1042-1049.
Soetjipto,dkk . 1992 .
Dasar-Dasar Irigasi . Erlangga . Jakarta.
Sudiarti dan Gusmini.
Pemanfaatan bahan organik in situ untuk efisiensi tanaman jahe yang
berkelanjutan
Sutanto, Rachman . 2010 .
Dasar-Dasar Ilmu Tanah Konsep Kenyataan . Kanisius. Yogyakarta.
Sutanto,R. 2012. Pertanian
Organik. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Utami, S.M.H dan
S.Handayani. 2014. Sifat Kimia Entisol Pertanian Organik dan Anorganik.Jurnal
Ilmu Tanah 10:63-69.

Komentar
Posting Komentar